Sejarah Malioboro

Hasil gambar untuk Malioboro

Jogjakarta terkenal dengan budaya Jawa yang kental dan terkenal dengan banyak turnya. Jogja juga dikenal sebagai kota pelajar karena tujuh puluh persen populasi di Yogyakarta adalah pelajar dan pelajar.

Salah satu wisata paling sadar di Jogja adalah Malioboro, dan beberapa bahkan mengatakan “jika Anda belum ke Jogja, Anda tidak bisa mengatakan ke Jogja” karena Malioboro adalah tujuan belanja cepat di Jogjakarta.

Malioboro dalam bahasa Sansekerta berarti karangan bunga. Mungkin nama itu muncul ketika sultan mengadakan acara yang sangat besar dan seluruh jalan dipenuhi bunga yang sangat banyak dan indah.

Pendirian Jalan Malioboro bertepatan dengan berdirinya Kraton Yogyakarta. Konsep jalan Malioboro dapat dikatakan sebagai poros imajiner utara-selatan yang berkorelasi dengan istana dengan gunung berapi Merapi di utara dan simbol supernatural di laut selatan.

Tetapi di era kolonial Belanda konsep itu terganggu yang membangun benteng Vredeburg (1790) di ujung selatan Malioboro.

Selain membangun benteng Belanda juga membangun beberapa bangunan lain seperti Bank Jawa dan Kantor Pos untuk mempertahankan dominasinya di Yokyakarta.

Pada saat itu perkembangannya sangat pesat yang disebabkan oleh perdagangan antara Cina dan Belanda. Dan itu disebabkan oleh pembagian tanah di sub-ruas jalan Malioboro oleh sultan kepada masyarakat Cina.

Karena banyaknya fisika dan bangunan yang dibangun oleh Belanda pada waktu itu, maka secara otomatis perkembangan pada waktu itu didominasi oleh Belanda.

Fasilitas yang dibangun oleh Belanda, antara lain, untuk meningkatkan ekonomi dan kekuatan mereka, seperti stasiun di Jalan Malioboro pada tahun 1887.

Jalan Malioboro juga memainkan peran yang sangat penting di masa awal kemerdekaan. Karena di situlah pertempuran warga negara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terjadi.

Malioboro sekarang menjadi pusat perbelanjaan dengan wisatawan terbesar di Yogyakarta. Dengan sejarah arsitektur kolonial yang bercampur dengan distrik komersial Cina.

Trotoar di kedua sisi jalan dipenuhi oleh pedagang kaki lima dan toko-toko kecil yang menjual berbagai barang dagangan.

Di malam hari restoran buka, disebut Lesbian, beroperasi di sepanjang jalan. Jalan itu selama bertahun-tahun merupakan jalan dua arah, tetapi pada 1980-an jalan itu satu arah, dari jalan kereta api ke selatan ke pasar Pringharjo.

Hotel Belanda terbesar dan tertua di era itu adalah hotel Garuda, yang terletak di ujung utara jalan di sisi timur, berdekatan dengan jalur kereta api. Di Malioboro ada juga bekas kompleks perumahan Belanda.

Sejarah perkembangan seni rupa Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dengan malioboro.

Dalam antologi puisi Indonesia di Yogyakarta 1945-2000 memberi judul “Malioboro” untuk buku tersebut. sebuah buku berisi 110 penyair yang telah tinggal di Yogyakarta selama lebih dari setengah abad.

Pada tahun 1970-an, Malioboro tumbuh menjadi pusat dinamika budaya dan seni Yogyakarta.

Jalan Malioboro menjadi panggung bagi seniman jalanan dan pusat gedung Senisono. Namun, kekuatan hidup seni jalanan ini akhirnya dihentikan pada 1990-an setelah gedung Senisono ditutup.

Yang pasti Malioboro menghadirkan beragam kegiatan belanja, mulai dari bentuk kegiatan tradisional hingga kegiatan belanja modern.

Salah satu cara berbelanja di Malioboro adalah dengan proses tawar-menawar, terutama untuk barang-barang komoditas dalam bentuk oleh-oleh dan oleh-oleh yang dijual oleh pedagang kaki lima yang berjejer di trotoar Malioboro.

Berbagai macam suvenir dan pengerjaan mulai dari perak, kulit, kayu, kain batik, tembikar dan sebagainya.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>