5 Kerajaan yang Masih Eksis di Tanah Air


Bangsa Indonesia lahir dari kerajaan utama seperti Kerajaan Majapahit, Mataram dan Kutai.

Namun, jika dilihat secara keseluruhan, ada ratusan kerajaan yang pernah menang di Bumi Pertiwi. Jadi berapa banyak kerajaan yang masih ada di negeri ini?

Dilansir dari toriqa.com, berdasarkan sebuah penelitian Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa ada 186 kerajaan yang masih ada secara fisik, yaitu wilayah, bangunan, budaya, dan struktur monarki, tetapi tidak lagi berdaulat karena mereka bergabung dengan Republik Indonesia.

Namun diantara 186 kerajaan yang memiliki garis keturunan dan budayanya masih kuat termasuk Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Surakarta, Kesultanan Cirebon, Kerajaan Ternate, dan Kesultanan Kanoman hingga sekarang.

Berikut adalah 5 kerajaan yang masih ada di negara ini;

Kesultanan Cirebon merupakan sebuah pemerin tahan Islam terbesar di Jawa Barat pada abad ke 15 dan 16 Masehi. Kesultanan menjadi basis penting dalam pelayaran dan pelayaran antarpulau.

Sedang untuk Lokasinya berada di pantai utara pulau Jawa, yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuat pelabuhan yang ‘menjembatani’ antara budaya Jawa dan Sunda.

Sehingga tercipta budaya yang khas, yaitu budaya Cirebon yang tidak didominasi oleh budaya Jawa atau budaya Sunda.

Kesultanan Cirebon dimulai dengan Ki Gedeng Tapa atau dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati.

Dia adalah seorang Mangkubumi dari Kerajaan Sing Apura, sebuah kerajaan yang bertugas mengatur pelabuhan Muarajati, Cirebon setelah tidak ada penerus takhta di kerajaan tetangganya, Surantaka – setelah putri penguasa menikahi Jayadewata atau prabu Silih Wangi.

Versi lain menyatakan, Pengeran Wal Directsang diinstruksikan oleh gurunya Sheikh Datuk Kahfi (Nur Jati) untuk membuka lahan di daerah Kebon Pesisir.

Tetapi dikatakan di Kebon Pesisir bahwa itu tidak sepenuhnya kosong, karena sudah ada pasangan yang sudah menikah, Ki Danusela dan istrinya, yang tinggal di sana.

Akhirnya, sebagai bentuk penghormatan, Kuwu atau Kepala Desa Caruban yang pertama kali ditunjuk oleh komunitas baru adalah Ki Danusela dengan gelar Ki Gedeng Alang-alang, sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkat Raden Wal directsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang – yang tidak lain adalah putri Ki Gedeng Tapa.

Setelah Ki Gedeng Alang-alang meninggal, Wal directsang yang juga memegang gelar Ki Cakrabumi diangkat sebagai penggantinya sebagai kuwu kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putra pertama Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi dari istri pertamanya, Subanglarang – putri Ki Gedeng Tapa.

Raden Wal directsang memiliki 2 saudara kandung, Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang.

Sebagai putra dan putra tertua, ia tidak mendapatkan haknya sebagai putra mahkota Pakuan Pajajaran. Ini karena dia memeluk Islam – diturunkan oleh Subanglarang, ibunya.

Sementara di abad ke-16, mayoritas ajaran agama di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan – agama leluhur Sunda, Hindu, dan Budha.

Posisinya digantikan oleh adik laki-lakinya, Prabu Surawisesa, putra Prabu Siliwangi dari istri keduanya, Nyai Cantring Manikmayang.

Pangeran Walangsungsang kemudian mendirikan sebuan daerah keci, atau semacam dusun di Kebon Pesisir, membangun Kuta Kosod atau struktur dinding bata merah tanpa ruang, mendirikan Dalem Pakungwati Agung dan membentuk pemerintahan di Cirebon pada 1430 M

Oleh karena inilah kemudian, pendiri pertama Kesultanan Cirebon dipercaya Wal directsang atau Pangeran Cakrabuana.

Setelah melakukan ziarah, Pangeran Cakrabuana kemudian melakukan ziarah, selanjutanya memanggil Haji Abdullah Iman, muncul sebagai ‘raja’ Cirebon pertama yang memerintah dari istana Pakungwati dan secara aktif menyebarkan Islam kepada orang-orang dari tanah Cirebon dan Pasundan dan mulai pada tahun 1445.

Pembentukan kekaisaran sangat erat kaitannya dengan keberadaan Kesultanan Demak. Pada 1479, Pangeran Cakrabuana mengundurkan diri dari kepemimpinan kerajaan Pakungwati.

Emudian Posisinya digantikan oleh anak laki lakinya yang terakhir, Nyai Rarasantang dari hasil pernikahannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yaitu Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah kematian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Cirebon dimulai ketika dipimpin oleh Sunan Gunung Jati.

Hingga kemudian ia dipercaya sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten, serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.

Kesultanan Yogyakarta

Kesultanan Yogyakarta atau kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat juga merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Pembentukan Kerajaan Mataram Islam dimulai dengan ketentuan Alas Mentaok atau wilayah Kesultanan Pajang atau Sultan Hadiwijaya melawan Ki Ageng Pamanahan, setelah berhasil mengalahkan musuhnya, Aryo Penangsang.

Kemudian Ki Ageng Pamanahan Pada 1577 membuat sebuah istana yang berada di daerah Kota Gede sebagai pusat pemerintahan, hingga ia wafat pada 1584, sebagai pengikut setia Kesultanan Pajang.

Setelah Ki Ageng Pamanahan meninggal, Kerajaan Mataram Islam dilanjutkan oleh putranya, Danang Sutawijaya. Namun, sang putra dikatakan tidak mau tunduk kepada Kesultanan Pajang.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>